Pengarang : Faqih bin Yusuf
Tahun : 2013
Tahun : 2013
Penerbit : Grasindo
Harga : -
Jumlah halaman : 270 halaman
Novel yang saya punya kebetulan dari cetakan kedua dengan kover atau sampul berwarna coklat muda dengan gambar peta negara Somalia yang mana garis luarnya seperti terdapat jahitan. Sampul ini menggambarkan sebagaimana negeri tanduk Afrika itu sendiri dengan huruf o pada 'Love' digambarkan dengan tetesan air yang mana negeri itu haus akan hadirnya air. Novel ini berukuran A5 dan cukup tebal, dengan 270 halaman yang saya baca dalam kurun waktu dua hari.
Saya memang tidak tahu dan buta akan berita apalagi berita luar negeri, melalui buku ini saya menjadi lebih mengenal Somalia. Saat membaca novel ini otomatis memberikan tamparan pada kita yang hidup terlalu nyaman di tengah negara tropis dengan segala kebutuhan pokok terpenuhi. Somalia negeri tandus dan gersang. Tiap harinya masyarakat di negeri itu mempertaruhkan dirinya antara hidup dan mati. Ancaman tak hanya dari makan minum yang sulit serta penyakit yang berdatangan namun juga konflik suku yang berkepanjangan menjadi teror yang hampir tidak bisa dihindari. Sulit membayangkan bagaimana hidup seperti itu, pahit dan getirnya rakyat Somalia bisa kita rasakan lewat Ashraf sang relawan dari Indonesia 'menjelajahi' negeri tersebut. Segala hal yang telah kita dapatkan sangat jauh lebih beruntung dibandingkan mereka dan hal ini mengingatkan bahwa kita sudah seharusnya patut bersyukur pada Yang Maha Kuasa, akan lebih baik jika kita berbagi serta mendoakan mereka dari ketidakberuntungan yang mereka alami...
Buku ini memberikan banyak pelajaran bagi kita terutama seorang muslim yang seorang hamba Allah. Bahwa kita harus bertawakal padaNya dan yakin akan kuasaNya. Seperti ketika Zamerah -seorang dokter Turki melontarkan amarahnya karena tak turunnya hujan dan mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan. Di kala itu juga petir menyambar di langit dan awan gelap menurunkan hujan lebat di hamparan tandus Somalia, menunjukkan kebesaranNya. Banyak hal yang patut kita petik, yang bagusnya di novel ini dicantumkan footnote ayat Al-Quran dan hadis yang semakin memperkuat suatu pernyataan dan tidak membuat kita kebingungan akan sahihnya. Mengingat buku ini dibuat berdasarkan kisah nyata membuat segala hal yang disajikan terasa lebih hidup dan nyata. Seakan-akan pembaca masuk ke dalam negeri Somalia. Tak jarang kisah pribadi Ashraf, sang tokoh utama yang menjadi pemanis dan tambahan cerita membuat kita menitikkan air mata dan plot twist di akhir cerita cukup membuat saya tercengang. Ketawakalan Ashraf patut kita tiru. Kepasrahannya di situasi genting terhadap Allah selalu berbuah manis adalah bukti keshalihan beliau dalam beribadah padaNya.
Rating: 4 bintang dari 5
resensi novel love in somalia - faqih bin yusuf, resensi love in somalia,
Novel yang saya punya kebetulan dari cetakan kedua dengan kover atau sampul berwarna coklat muda dengan gambar peta negara Somalia yang mana garis luarnya seperti terdapat jahitan. Sampul ini menggambarkan sebagaimana negeri tanduk Afrika itu sendiri dengan huruf o pada 'Love' digambarkan dengan tetesan air yang mana negeri itu haus akan hadirnya air. Novel ini berukuran A5 dan cukup tebal, dengan 270 halaman yang saya baca dalam kurun waktu dua hari.
Saya memang tidak tahu dan buta akan berita apalagi berita luar negeri, melalui buku ini saya menjadi lebih mengenal Somalia. Saat membaca novel ini otomatis memberikan tamparan pada kita yang hidup terlalu nyaman di tengah negara tropis dengan segala kebutuhan pokok terpenuhi. Somalia negeri tandus dan gersang. Tiap harinya masyarakat di negeri itu mempertaruhkan dirinya antara hidup dan mati. Ancaman tak hanya dari makan minum yang sulit serta penyakit yang berdatangan namun juga konflik suku yang berkepanjangan menjadi teror yang hampir tidak bisa dihindari. Sulit membayangkan bagaimana hidup seperti itu, pahit dan getirnya rakyat Somalia bisa kita rasakan lewat Ashraf sang relawan dari Indonesia 'menjelajahi' negeri tersebut. Segala hal yang telah kita dapatkan sangat jauh lebih beruntung dibandingkan mereka dan hal ini mengingatkan bahwa kita sudah seharusnya patut bersyukur pada Yang Maha Kuasa, akan lebih baik jika kita berbagi serta mendoakan mereka dari ketidakberuntungan yang mereka alami...
Buku ini memberikan banyak pelajaran bagi kita terutama seorang muslim yang seorang hamba Allah. Bahwa kita harus bertawakal padaNya dan yakin akan kuasaNya. Seperti ketika Zamerah -seorang dokter Turki melontarkan amarahnya karena tak turunnya hujan dan mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan. Di kala itu juga petir menyambar di langit dan awan gelap menurunkan hujan lebat di hamparan tandus Somalia, menunjukkan kebesaranNya. Banyak hal yang patut kita petik, yang bagusnya di novel ini dicantumkan footnote ayat Al-Quran dan hadis yang semakin memperkuat suatu pernyataan dan tidak membuat kita kebingungan akan sahihnya. Mengingat buku ini dibuat berdasarkan kisah nyata membuat segala hal yang disajikan terasa lebih hidup dan nyata. Seakan-akan pembaca masuk ke dalam negeri Somalia. Tak jarang kisah pribadi Ashraf, sang tokoh utama yang menjadi pemanis dan tambahan cerita membuat kita menitikkan air mata dan plot twist di akhir cerita cukup membuat saya tercengang. Ketawakalan Ashraf patut kita tiru. Kepasrahannya di situasi genting terhadap Allah selalu berbuah manis adalah bukti keshalihan beliau dalam beribadah padaNya.
Rating: 4 bintang dari 5
resensi novel love in somalia - faqih bin yusuf, resensi love in somalia,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar